SOMAP Ajak Elemen Mahasiswa dan Masyarakat Sipil Hadiri Seminar Temu Akbar Bahas
Solidaritas Mahasiswa Papua (SOMAP) menggelar konsolidasi terbuka sebagai langkah strategis untuk mengajak berbagai elemen mahasiswa dan masyarakat sipil berpartisipasi dalam Seminar Temu Akbar. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada 19 Juni 2026 di Kota Jayapura, Provinsi Papua, dengan fokus membahas dampak Proyek Strategis Nasional (PSN) di Tanah Papua. Konsolidasi tersebut melibatkan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Organisasi Kepemudaan (OKP), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), kelompok Cipayung, serta mahasiswa-mahasiswi Papua dan Indonesia.
| SOMAP Ajak Elemen Mahasiswa dan Masyarakat Sipil Hadiri Seminar Temu Akbar Bahas Dampak PSN di Papua.(Dok. Pribadi) |
JAYAPURA - Seminar Temu Akbar ini bertujuan menjadi ruang dialog dan pertukaran gagasan bagi akademisi, mahasiswa, aktivis, dan masyarakat sipil. Menurut SOMAP, pelaksanaan PSN di Tanah Papua semakin masif dan perlu menjadi perhatian bersama.
"Seminar ini merupakan wadah untuk membangun kesadaran kritis serta memperkuat pemahaman bersama terkait situasi yang terjadi di Tanah Papua, khususnya dampak yang ditimbulkan oleh berbagai Proyek Strategis Nasional," ujar Koordinator Konsolidasi SOMAP, Roniel Mirin, melalui telepon pada Senin (15/6/2026).
Roniel Mirin menegaskan bahwa ekspansi proyek-proyek pembangunan yang masuk dalam kategori PSN telah menimbulkan beragam persoalan.
"Kami melihat bahwa berbagai kebijakan pembangunan yang diterapkan di Papua harus dievaluasi secara terbuka karena menyangkut masa depan masyarakat Papua," kata Roniel.
Ia menambahkan bahwa seminar ini menjadi ruang bagi seluruh elemen untuk membahas secara objektif dampak sosial, ekonomi, lingkungan, serta hak-hak masyarakat adat yang terdampak oleh proyek-proyek strategis nasional.
SOMAP menilai bahwa kebijakan pembangunan yang masuk dalam kategori PSN perlu dikaji secara komprehensif. Hal ini terutama terkait dampaknya terhadap masyarakat adat, lingkungan hidup, ruang hidup masyarakat, serta aspek sosial dan ekonomi masyarakat Papua.
"Pembangunan tidak boleh mengabaikan prinsip keadilan, keberlanjutan lingkungan, penghormatan terhadap hak-hak masyarakat adat, serta partisipasi masyarakat dalam setiap proses pengambilan kebijakan," tegas Roniel.
Dalam konsolidasi terbuka, SOMAP mengajak seluruh BEM, OKP, kelompok Cipayung, LSM, organisasi mahasiswa, serta mahasiswa-mahasiswi Papua dan Indonesia untuk hadir dalam Seminar Temu Akbar.
"Melalui forum ini, kami ingin membangun kesadaran kolektif dan menghasilkan gagasan serta rekomendasi yang dapat menjadi kontribusi bagi penyelesaian berbagai persoalan yang muncul akibat implementasi PSN dan kebijakan pemerintah di Tanah Papua," kata Roniel.
Latar belakang kegiatan ini adalah semakin masifnya pelaksanaan PSN di Tanah Papua yang dinilai perlu menjadi perhatian bersama. SOMAP berharap seminar ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman dan kesadaran kritis masyarakat terhadap dampak pembangunan.
Selain itu, seminar ini juga diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi konkret yang dapat menjadi masukan bagi pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.
Data sekunder menunjukkan bahwa proyek-proyek PSN di Papua telah menimbulkan berbagai dampak, termasuk pergeseran sosial, degradasi lingkungan, dan konflik agraria. Masyarakat adat seringkali menjadi pihak yang paling terdampak, dengan hilangnya lahan dan sumber daya tradisional mereka. Oleh karena itu, SOMAP menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam setiap proses pengambilan kebijakan yang berkaitan dengan tanah dan sumber daya alam Papua.
Seminar Temu Akbar ini diharapkan dapat menjadi tonggak penting dalam upaya membangun dialog yang konstruktif antara pemerintah, masyarakat sipil, dan akademisi.
Dengan melibatkan berbagai elemen, SOMAP berharap dapat menciptakan ruang yang inklusif untuk membahas dan mencari solusi atas persoalan-persoalan yang muncul akibat implementasi PSN di Tanah Papua. Kegiatan ini juga dih contoh bagi daerah lain dalam membangun partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan.
Posting Komentar