Homepage Widgets (ATF)

Homepage Widgets

Aksi Demonstrasi di Sentani Dibubarkan Aparat, Massa Mengaku Tidak Diberi Ruang

Aksi demonstrasi serentak yang digelar di delapan titik di Sentani, Kabupaten Jayapura, pada Senin 3 Agustus 2020, berujung pembubaran paksa oleh aparat kepolisian. Massa yang hendak menyampaikan pendapat di muka umum mengaku tidak diberi ruang demokrasi dan menghadapi tindakan represif sejak pagi hari.

Aksi Demonstrasi di Sentani Dibubarkan Aparat, Massa Mengaku Tidak Diberi Ruang
Aksi Demonstrasi di Sentani Dibubarkan Aparat, Massa Mengaku Tidak Diberi Ruang Demokrasi

JAYAPURA, SAMENAGE TIMES - Ketua KNPB Wilayah Sentani, Sadracks Lagowan, menjelaskan bahwa aksi ini merupakan bagian dari gerakan serentak yang dilakukan di delapan kota di Papua, serta di Timor Leste dan sejumlah wilayah Indonesia. Di Sentani, massa tersebar di titik Sabron, Sentani Barat, Kemiri Sosial, Pasar Baru, Pasar Lama, Pos 7, Sere, dan Jalan Naik Poyok.

Menurut Lagowan, sejak pukul 06.00 aparat telah mengepung massa di Kompleks Kediaman Francos di Matoa. Di Pasar Baru, massa dipukul mundur tanpa negosiasi sekitar pukul 07.00. Hal serupa terjadi di titik Kemiri dan Sosial, di mana upaya negosiasi tetap berujung pada tindakan pemukulan sekitar pukul 08.20.

Lagowan menuturkan bahwa setelah dipukul mundur dari Pasar Baru dan Pasar Lama, massa dari kedua titik itu bergabung. Sementara kelompok dari Kemiri dan Sosial juga menyatukan barisan dengan mahasiswa STT Waterpose, Pos 7, dan Sere.

“Pada siang hari sekitar pukul 11.21, semua massa sudah berkumpul di Pos 7, namun situasi tetap tidak kondusif karena tidak ada ruang demokrasi,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa aparat kepolisian menggunakan mobil taktis dan ratusan personel dengan perlengkapan lengkap untuk membatasi pergerakan massa.

“Aparat masih menggunakan represi dan negosiasi yang tidak membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat di jalan maupun di tempat-tempat umum,” kata Lagowan.

Lagowan juga melaporkan adanya tembakan sebanyak tiga kali yang diduga mengenai beberapa warga sipil yang ikut bergabung dalam aksi. Insiden itu terjadi sekitar pukul 09.11 ketika massa kembali dipukul mundur.

“Teman-teman di titik Jalan Naik Ipar Gunung berupaya bergabung ke Pos 7, tetapi situasi tetap ditekan,” ujarnya.

Sementara itu, massa di Sabron pada siang hari sekitar pukul 11.21 disebut masih berkumpul dan berorasi secara damai. Namun, menurut Lagowan, Polres Jayapura belum membuka ruang negosiasi yang sehat dan tetap menggunakan pendekatan represif terhadap massa gabungan dari seluruh titik aksi.

Aksi ini mencerminkan ketegangan yang terus berulang dalam dinamika penyampaian pendapat di Papua, di mana kelompok masyarakat kerap mengeluhkan minimnya ruang demokrasi dan tindakan aparat yang dianggap berlebihan. Lagowan menegaskan bahwa laporan resmi dan format data tambahan akan disampaikan pada waktu berikutnya, seraya meminta agar dokumentasi media terkait aksi ini dapat dicetak dan disebarluaskan.(*)

Cari Blog Ini

Kunjungan Tokoh Gereja Katolik ke Taman Doa Mato Pay, Dekai

Dekai, 9 Juni 2026, Taman Doa Mato Pay, Dekai, menjadi saksi momen istimewa saat tokoh-tokoh gereja Katolik dan pemerintah provinsi Papua berkunjung pada Selasa (9/6/2026). Kunjungan ini tidak hanya menjadi kesempatan untuk menikmati keindahan taman, tetapi juga membawa pesan penting tentang kolaborasi dan peran pemuda dalam pembangunan. Kunjungan Tokoh Gereja Katolik ke Taman Doa Mato Pay, Dekai YAHUKIMO - Dalam kunjungan yang berlangsung pada pukul 11.30 WIT, tokoh-tokoh gereja Katolik, termasuk Dr. Blasius W. Sejati, MM, dan Rudolf Rumbino, ST, MT, didampingi oleh Obeth Hugi, Ketua Pemuda Katolik Komcab Kabupaten Yahukimo. Momen ini menjadi kesempatan bagi mereka untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya kerja sama antara pemuda, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun daerah. "Pemuda adalah ujung tombak kabupaten ini, generasi kedepan yang akan menentukan masa depan bangsa dan tanah air," ujar Dr. Blasius W. Sejati, MM, dalam pesan yang d...

Di Balik Kabut Samenage, Pendidikan Masih Menunggu

Langkah-langkah kecil yang membawa harapan. Pemuda Distrik Samenage, Aten Momiage S.Pd SAMENAGE - Harapan yang bernama pendidikan; sebuah pelita yang selama ini terasa begitu jauh di cakrawala. Di sini, anak-anak tumbuh berdampingan dengan alam, berlari bebas di atas tanah yang subur, menatap langit luas dengan mata yang berbinar. Namun, tidak semua sempat menyentuh lembar demi lembar ilmu pengetahuan. Hari berganti minggu, minggu beranjak menjadi tahun. Ruang-ruang belajar tetap membisu, setia menanti kehadiran suara seorang guru. Buku-buku menjadi barang langka yang dirindukan, dan cita-cita perlahan memudar karena kesempatan tak kunjung tiba. Akibatnya, sebagian generasi memilih untuk menikah di usia belia. Bukan karena mereka telah berhenti bermimpi, melainkan karena waktu terus berpacu, sementara pendidikan seolah tertinggal jauh di belakang. Api harapan yang dahulu menyala, kini perlahan redup ditelan keadaan. Siapa yang harus disal...

Wakil Ketua I DPR Papua Tengah Sampaikan Aspirasi ke Fraksi NasDem DPR RI, Minta RDP di Komisi I dan III

NABIRE, SAMENAGE TIMES -  Wakil Ketua I DPR Provinsi Papua Tengah hari ini menyampaikan aspirasi masyarakat Papua Tengah secara resmi kepada Fraksi Partai NasDem DPR RI di Jakarta, Nabire 04 Juni 2026 Wakil Ketua I DPR Papua Tengah Sampaikan Aspirasi ke Fraksi NasDem DPR RI, Minta RDP di Komisi I dan III Diben Elaby Menyampaikan Aspirasi tersebut diminta untuk diperjuangkan di Komisi I dan Komisi III DPR RI yang membidangi pemerintahan, hukum, keamanan, dan penegakan hukum. “Kami berharap Komisi I dan Komisi III berkenan menjadwalkan Rapat Dengar Pendapat/RDP bersama kami,"tandasnya Elaby" Lanjut Ini penting agar suara dan kebutuhan riil masyarakat Papua Tengah bisa langsung didengar dan ditindaklanjuti di tingkat nasional,” ujar Wakil Ketua I DPR Papua Tengah. Penyampaian aspirasi ini merupakan bentuk tanggung jawab DPR Provinsi sebagai jembatan antara rakyat Papua Tengah dengan pemerintah pusat,"tutup".(*) Penulis: Jeri P. Degei